Auditing
berasal dari bahasa latin, yaitu ”audire”
yang berarti mendengar
atau memperhatikan. Mendengar dalam hal ini adalah memperhatikan dan mengamati
pertanggungjawaban keuangan yang disampaikan penanggung jawab keuangan, dalam
hal ini manajemen perusahaan. Pada perkembangan terakhir sesuai dengan
perkembangan dunia usaha, pendengar tersebut dikenal dengan auditor atau
pemeriksa. Sedangkan tugas yang diemban oleh auditor tersebut disebut dengan
”auditing”.
Senin, 12 Agustus 2013
Senin, 03 Juni 2013
Independensi Dalam Audit
Dalam
melaksanakan pemeriksaan akuntan, akuntan publik memperoleh kepercayaan diri
dari klien dan para pemakai laporan keuangan untuk membuktikan kewajaran
laporan keuangan yang disusun dan disajikan oleh klien. Oleh karena itu, dalam
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa harus
bersikap independen terhadap kepentingan klien, para pemakai laporan keuangan,
maupun terhadap kepentingan akuntan publik itu sendiri. Salah satu karakter
yang sangat penting untuk profesi akuntan publik dalam melaksanakan pemeriksaan
akuntan (auditing) terhadap kliennya adalah independensi. Akuntan publik dapat
kehilangan independensinya jika mereka mempunyai kepentingan keuangan dan
hubungan usaha dengan klien yang diaudit.
Selasa, 26 Maret 2013
Kualitas Audit (Suatu Pengertian)
Kualitas audit merupakan hal penting harus dipertahankan
oleh para auditor dalam proses pengauditan. Jika
seseorang auditor melaksanakan pekerjaannya secara profesional maka audit yang
dihasilkan akan berkualitas. De Angelo (1981) dalam Alim, dkk (2007) mendefenisikan kualitas audit sebagai :
“Probabilitas
seorang auditor dalam menemukan dan melaporkan penyelewengan dalam sistem
kliennya”.
Probabilitas
penemuan penyelewengan bergantung pada kemampuan teknis auditor (seperti
pengalaman auditor, pendidikan, pro-fesionalisme, dan struktur audit
perusahaan). Probabilitas auditor untuk melaporkan penyelewengan yang terjadi
dalam sistem akuntansi klien bergantung pada independensi auditor. Deis dan Giroux
(1992) dalam Alim, dkk (2007) juga
menjelaskan adapun kemampuan untuk menemukan salah saji yang material dalam
laporan keuangan perusahaan tergantung dari kompetensi auditor sedangkan
kemauan untuk melaporkan temuan salah saji tersebut tergantung pada
independensinya
AAA Financial
Accounting Standard Committee
(2000) dalam Christiawan (2002) menyatakan bahwa :
“Kualitas audit ditentukan oleh 2 hal, yaitu kompetensi
(keahlian) dan independensi, kedua hal tersebut berpengaruh langsung terhadap
kualitas dan secara potensial saling mempengaruhi. Lebih lanjut, persepsi
pengguna laporan keuangan atas kualitas audit merupakan fungsi dari persepsi
mereka atas independensi dan keahlian auditor”.
Abdul Halim (2001) dalam bukunya mengatakan faktor-faktor
penentu kualitas audit terdiri dari :
1.
Pengalaman.
2.
Pemahaman industri
klien.
3. Respon atas kebutuhan klien.
4.
Ketaatan pada
standar umum audit.
Selain
itu, untuk dapat memenuhi kualitas audit yang baik maka auditor dalam
menjalankan profesinya sebagai pemeriksa harus berpedoman pada kode etik
akuntan, standar profesi dan standar akuntansi keuangan yang berlaku di
Indonesia. Akuntan publik atau auditor independen dalam menjalankan tugasnya
harus memegang prinsip-prinsip profesi. Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan
berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu.
Dari
pengertian tentang kualitas audit tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
kualitas audit merupakan segala kemungkinan dimana auditor pada saat mengaudit
laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam sistem
akuntansi klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan, dimana dalam
melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing dan
kode etik akuntan publik yang relevan.
Rabu, 20 Februari 2013
Saya Bertanya Saya Menjawab Edisi Perekonomian Indonesia
1. Bagaimana kondisi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan di Indonesia?
Penduduk dengan pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33%). Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik yang menyatakan turun 1,51 Juta dibandingkan pada bulan yang sama tahun lalu. Yang sebesar 32,53 juta (14,15%). Rinciannya adalah selama periode satu tahun 2009 – 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81, sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Adapun peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Dituangkan pada Maret 2010, Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,5 persen, sedangkan pada Maret 2009 sebesar 73,6 persen. Spesifikasi komoditi makanan yang berpengaruh signifikan terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, bawang merah, kopi, dan tahu. Di lain pihak untuk komoditi bukan makanan teridentifikasi seperti biaya perumahan, listrik, angkutan, dan pendidikan. Dalam kurun waktu Maret 2009 menuju Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata – rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.
Penduduk dengan pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33%). Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik yang menyatakan turun 1,51 Juta dibandingkan pada bulan yang sama tahun lalu. Yang sebesar 32,53 juta (14,15%). Rinciannya adalah selama periode satu tahun 2009 – 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81, sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Adapun peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Dituangkan pada Maret 2010, Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,5 persen, sedangkan pada Maret 2009 sebesar 73,6 persen. Spesifikasi komoditi makanan yang berpengaruh signifikan terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, bawang merah, kopi, dan tahu. Di lain pihak untuk komoditi bukan makanan teridentifikasi seperti biaya perumahan, listrik, angkutan, dan pendidikan. Dalam kurun waktu Maret 2009 menuju Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata – rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.
Kamis, 07 Februari 2013
Problematika Corporate Sosial Responsibility
Betapa besar pengaruh dunia
bisnisterhadap denyut nadi perikehidupan masyarakat kian hari kian terasa.
Kepada mereka terhampar harapan besar untuk mengalirnya produk ataupun jasa
yang kian berkualitas dan terciptanya lapangan kerja baru. Dengan kata lain
kehadiran mereka mengusung obsesi berupa kehidupan dan taraf hidup yang lebih
baik bagi banyak orang. David C. Kohen, Profesor Sekolah Bisnis Harvad,
mengatakan dalam bukunya When Corporation Rule the World yang dikutip
oleh Harmanto Edy Djatmiko dalam majalah SWA edisi 19 Desember 2005 bahwa dunia
bisinis selama setengah abad terakhir telah bertriwikrama menjadi institusi
paling berkuasa di planet ini. Kekuasaan pelaku bisnis yg begitu dominan
tersebut mau tidak mau pasti mengandung risiko yg tidak kecil karena sepak
terjang mereka terutama perusahaan yang telah meraksasa akan member dampak
signifikan terhadap kualitas tidak saja manusia sebagai individu dan kelompok,
juga terhadap lingkungan alam di jagat raya ini. Fenomena inilah yang kemudian
memunculkan diskursus atau wacana tentang tanggung jawab sosial perusahaan atau
corporate social responsibility (CSR), ada yang menyebutnya corporate
citizenship, bahkan sekarang ini ada yang menyebutnya sebagai corporate
philanthropy.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)